GarudaNKRI.Com – Sukabumi, 1 April 2026 – Libur Lebaran tahun ini membawa gelombang besar wisatawan ke Kabupaten Sukabumi. Dinas Pariwisata mencatat lonjakan kunjungan mencapai 325.545 orang hanya dalam kurun waktu 21–26 Maret 2026.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menyebut kawasan selatan timur menjadi magnet utama dengan 165.133 pengunjung, disusul selatan barat 131.045 orang, dan wilayah utara 29.367 wisatawan. “Untuk wilayah selatan timur tercatat sekitar 165.133 pengunjung, kemudian selatan barat 131.045 orang, sementara kawasan utara sekitar 29.367 wisatawan,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Ali menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat estimasi karena sebagian besar pendataan masih manual. Hanya enam objek wisata yang sudah menggunakan sistem tiket digital. Ke depan, pemerintah daerah menyiapkan sistem gerbang masuk berbasis kawasan agar jumlah wisatawan bisa dipantau secara digital sekaligus mengendalikan kapasitas destinasi.
Di tengah ramainya kunjungan, perhatian khusus tertuju pada Pantai Karang Hawu di Kecamatan Cisolok. Kepala Desa Cikahuripan, Kang Midun, menegaskan pentingnya menjaga pantai ini sebagai aset strategis. “Alhamdulillah, Karang Hawu ini bukan hanya indah, tapi juga penuh sejarah. Dulu Presiden Bung Karno pernah beristirahat di Gunung Karang Hawu, bahkan dongeng Nyai Roro Kidul pun berakar dari sini. Maka menjaga pantai ini sama artinya dengan menjaga garis depan sejarah dan mitologi Nusantara,” ucapnya, Sabtu (28/3/2026).
Dalam gaya komando, Kang Midun menyebut Karang Hawu sebagai brand equity budaya yang harus dijaga dengan disiplin. Kebersihan, sopan santun, dan kenyamanan pengunjung adalah aturan operasi lapangan yang wajib ditegakkan. Ia memberikan apresiasi kepada Kapolsek Cisolok, Polairud, Balawisla, dan relawan yang menjadi garda terdepan pengamanan. “Mereka adalah pasukan pengaman yang memastikan arus laut berbahaya bisa diminimalisir. Ini adalah bentuk hedging dalam strategi pertahanan, mencegah kerugian besar bagi masyarakat dan wisatawan,” tegasnya.
Tak hanya pantai, kawasan ini juga memiliki Sumur Tujuh yang menjadi simbol keseimbangan alam. “Ini adalah bonus dividen alam, fasilitas yang harus dijaga seperti logistik vital dalam operasi,” tambah Kang Midun.
Dengan perpaduan antara lonjakan wisatawan, keindahan alam, jejak sejarah Bung Karno, mitos Nyai Roro Kidul, hingga pengamanan ketat aparat, Sukabumi menunjukkan dirinya sebagai laboratorium pariwisata strategis. “Semoga pengunjung merasa aman, nyaman, dan pulang dengan cerita indah. Sukabumi Mubarokah, Jawa Barat, Istimewa,” tutup Kang Midun penuh semangat.













