Soal Cilampahan, Jalan Rusak Jadi Sorotan, DPU Sukabumi Beri Klarifikasi

banner 468x60

ukabumi, Juli 2026 – Sebuah video memilukan dari Kampung Cilampahan, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, viral di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan warga menandu jenazah di tengah gelap malam dengan penerangan seadanya, akibat akses jalan yang rusak parah dan tidak bisa dilalui ambulans.

Peristiwa ini terjadi pada Senin (6/7/2026) malam, ketika seorang pemuda, Dede Trisno (27), meninggal dunia di atas sepeda motor saat hendak dibawa ke puskesmas karena penyakit paru-paru yang dideritanya. Kondisi jalan yang hancur membuat ambulans hanya bisa menunggu di titik jalan yang layak, sementara warga terpaksa menandu jenazah dengan sarung dan bambu.

banner 336x280

Klarifikasi Dinas PU

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Drs. Uus Pirdaus, memberikan penjelasan bahwa ruas jalan yang dikeluhkan warga bukan merupakan kewenangan pemerintah kabupaten.

“Kewenangan dan status jalan di Kampung Cilampahan, Desa Sumberjaya merupakan jalan dalam kawasan desa yang menjadi kewenangan desa,” ujar Uus, Selasa (7/7/2026).

Uus juga menegaskan, kritik warga mengenai perbaikan jalan sepanjang enam kilometer yang dianggap tidak tuntas bukanlah program dari Dinas PU Kabupaten Sukabumi.

“Terkait penanganan jalan yang belum tuntas, Dinas PU tidak memiliki wewenang untuk penanganan jalan yang bukan statusnya,” tegasnya.

Tantangan Infrastruktur di Pelosok

Meski demikian, Uus mengakui bahwa ketimpangan infrastruktur di pelosok Sukabumi masih menjadi tantangan besar. Keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama dalam pemerataan pembangunan.

“Kemampuan APBD dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur jalan masih sangat kurang dari kebutuhan. Luas wilayah dan kemampuan APBD tidak sebanding,” bebernya.

Selain itu, kebijakan efisiensi dana transfer dari pemerintah pusat juga memperlambat pemerataan pembangunan hingga ke tingkat desa.

“Kemudian adanya efisiensi dana transfer daerah dari pemerintah pusat, sehingga penanganan jalan belum dapat merata sampai ke pelosok-pelosok,” pungkas Uus.

Suara Warga dan Kritik Sosial

Dalam video yang beredar, warga bernama Tumang Wijaya Kusuma meluapkan kekecewaannya dengan menyentil slogan Jabar Istimewa yang diusung Gubernur Jawa Barat.

“Pak Dedi, ieu anu disebut Jabar Istimewa teh? Masyarakat arek ka rumah sakit nepi ka teu nepi, balik deui kusabab jalan goreng patut, nepikeun ka pupus di tengah jalan,” keluh Tumang.

Menurutnya, kerusakan jalan eks-perkebunan tersebut sudah berlangsung puluhan tahun tanpa perbaikan berarti. Warga harus bertaruh nyawa melintasi jalur berlumpur demi mengakses layanan kesehatan.

Tragedi Cilampahan menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, melainkan urusan kemanusiaan. Dengan semangat Sukabumi Mubarokah – Maju, Unggul, Berbudaya, dan Berkah, pemerintah daerah berkomitmen terus memperjuangkan pemerataan pembangunan agar tidak ada lagi warga yang kehilangan nyawa hanya karena jalan rusak.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *